02 November 2009

Waduh, Ternyata Kebebasan Pers di Indonesia Ada di Ranking 100 dari 175 Negara di Dunia

Meski sudah lebih baik ketimbang masa Orde Baru, kebebasan pers di Indonesia ternyata masih ketinggalan dibandingkan negara-negara lain di dunia.

Menurut Indeks Kebebasan Pers 2009 yang dirilis Reporters Without Borders (RSF), Indonesia menempati posisi 100 dari 175 negara di dunia.


Meski belum mencapai papan tengah, Indonesia jauh lebih baik dari negara-negara lainnya di Asia Tenggara.


Myanmar, misalnya, yang dikuasai pemerintahan junta militer, menempati rangking yang nyaris paling bawah, yakni 171 dari 175 negara.


Oleh RSF, Myanmar dideskripsikan sebagai "Surganya sensor. Satu diantara sedikit negara di dunia yang semua publikasinya diharuskan melewati mekanisme sensor."


"Setelah China dan Kuba, Myanmar adalah negara yang paling banyak memenjarakan jurnalis dan blogger."


Sementara, Vietnam, menempati rangking 166 dari 175 negara. Menurut deskripsi RSF, Vietnam tidak memiliki media yang independen.


"Pers, baik koran, majalah, televisi, dan radio, semua di bawah kontrol Hanoi." Belasan jurnalis juga diketahui disel di Vietnam.


Sementara Laos menempati posisi 169, kemudian Filipina yang juga mendukung kebebasan pers, menempati posisi 122. Kebebasan pers di Filipina bercela karena dua jurnalis terbunuh dalam 12 tahun terakhir.


"Kebebasan media memang ada tapi resiko kekerasan terhadap junalis masih tinggi. Pulau Mindanao saat ini adalah wilayah paling berbahaya bagi jurnalis."


Sementara Thailand menempati posisi 130, kemudian Singapura 133, dan negeri jiran Malaysia, yang dikenal mengontrol ketat persnya, menempati rangking 131.


Seperti dimuat laman Asianewsnet, Senin 2 November 2009, negara-negara Asia Tenggara harus waspada. Sebab, indeks kebebasan pers berpotensi besar melorot tajam.


Masyarakat di Asia Tenggara harus bertanya apakah kita akan mengorbankan demokrasi dan kebebasan demi keamanan dan stabilitas sesaat.



• VIVAnews

1 komentar: